Sebuah Ekspresi Kesedihan

Mestinya nyampe kos gue belajar. Tapi gue malah membuka account blog gue yang udah berbulan-bulan gak gue update dan dengan otomatis membuat blog dengan judul kayak gini.
It’s not something big or what, it’s just life.
Sejak akhir minggu kemarin gue jatuh sakit. Awalnya sore throat biasa, terus makin sakit dan minggu malam gue demam disertai migrain. Syukurlah Senin pagi gue udah gak demam walaupun leher masih sakit luar biasa dan kepala juga masih nyut-nyutan.
Hari ini penyakit gue ga ada progress. Tentu aja gue udah minum obat (my mom is a pharmacist so she practically knows when to give antibiotics to treat certain disease with certain symptoms). Minum antibiotic ya ga langsung sembuh juga, tetep harus dibarengi sama istirahat yang cukup, which I doubt I’ll have in 1 week forward.
Hari ini gue kuliah cuman 1 jam doang, gak ada praktikum. Tapi kemarin malem gue dapet sms dari teman gue kalo gue dapet giliran “jaga” DC Voli (semacam pertandingan olahraga intrakampus gue dan gue panitia di cabang voli) hari ini jam 5. Sms pemberitahuannya malem. Gue udah kayak “what, why so sudden?” Bukan karena gue ada acara lain yang bentrok sama itu, tapi gue gak suka aja sesuatu yang mendadak dan tiba-tiba berkaitan dengan jadwal gue. Udah kesel-kesel gitu tapi gue pendem-pendem aja lah. FYI, sakit membuat mood swing gue kumat dan cukup parah.
Eh tadi pagi ada sms dadakan lain tentang briefing panitia untuk sore ini. Gue sms PJ-nya kan, gue protes dan tanya kenapa semuanya dadakan gini. Berhubung mood gue tadi pagi juga gak baik-baik banget (karena batuk-batuk gue yang tak kunjung mereda), meluap lah segala kekesalan gue yang mungkin lu pikir childish. Gue mengkritik keputusan rapat mengenai kriteria keberhasilan pertandingan dari kehadiran panitia yang menurut gue terlalu PD. Oke, memang kekhawatiran gue gak terbukti, tadi cuman 1 panitia wajib dateng yang gak dateng, tapi ke cover karena memang angkatan gue yang tanding.
Udah kan, selesai kuliah ternyata ada guest lecture, jadi gue baru beres jam 12. Gue udah berpikir untuk ngilang dan cabut ke kos terus istirahat. But I didn’t. Well, now I know I should have gone back that time. Selama 5 jam gue nunggu di perpus yang AC-nya bikin hidung gue meler lebih parah sampe gue kehilangan kemampuan untuk menghidu.
Mengingat kondisi gue yang seperti ini, dengan gue sebagai manusia biasa yang gak sempurna, wajar dong kalau gue ngeluh? Tololnya memang gue ngeluh lewat sms dan smsnya salah kirim, malah ke orang yg seharusnya tidak membaca sms itu.
Gak ngerti deh gue orangnya udah baca atau belum yang jelas we haven’t talked since that ‘accident’
Oke, pas pertandingan gue jadi scorring man gitu, yang ngeganti2 angka di papan skor. Tas gue taro di seberang lapangan. Sebenernya sepanjang pertandingan gue udah kepikiran karena di tas gue ada laptop. Tapi karena rebek gue mager ngambil tas.
Pas peluit tanda pertandingan selesai, gue segera nyamperin tas gue. Udah refleks ambil tas berarti cek HP yg gue tinggalin di sana. Siapa tau ibu gue sms. Man, you know what, my HP’s LCD was totally broken. And that was like the triggering moment that reached the ‘tear-producing-threshold’. Mungkin ada di antara lu yang menganggap gue lebay kalo nangisin hp, but you must know, that crying was not something anyone intended to do. If you don’t feel it that way, If you disagree about that, well, it must be your emotional processing cortex that’s abnormal.
waktu hp gue yang sebelumnya hilang dicolong, gue pun nangis, di angkot lagi.
Still disagree? Yeah, besides your abnormal processing cortex, you also don’t even try to be empathetic.
Alhasil sepanjang evaluasi panitia setelah pertandingan gue nahan nangis. Gue gak mau merepotkan orang dengan berusaha menghibur gue, ataupun mengganggu siapapun yang merasa kalau nangis itu annoying.
Gak sampai di situ.
Memang ini kelalaian gue. Gue LO angkatan 2008, dan gue salah ngasih tau lawan tanding pertandingan minggu depan. Bukan kesalahan yang fatal atau apa. Tapi karena gue bener-bener udah…. arrhh, gue pun nangis dan mengerjap-ngerjapkan mata, berusaha liat ke arah lain. Selesai evaluasi, gak pake lama gue langsung pulang dan menangis dalam kegelapan, dalam keramaian jalan diponegoro, sekaligus dalam diam.
Kesimpulannya adalah, gue bener-bener nyesel udah memutuskan untuk pergi kuliah hari ini, gue bener-bener nyesel udah ngebela-belain nunggu 5 jam di perpustakaan. I rarely regret things happened in my life, really. But this time I regret my decision so much.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s