cin(T)a: sebuah review

Gue baru saja menonton film pendek buatan anak ITB yang berjudul cin(T)a. Sebelumnya, bener kan ini film pendek? cuman 35 menit? Gue dikasih film ini softcopynya sama temen gue, dan menemukan bahwa hanya ada 1 file dan gue tonton selama 30 menit

Yak

Sebenernya, ini timingnya terlalu, sangat pas dengan kegalauan yang melanda gue seharian ini.

Tau kan film cin(T)a tentang apa?

Kalo tau, gue ga usah lah ya bikin reviewnya haha. Yep, exactly, film tersebut menceritakan tentang cinta di antara 2 orang yang berbeda agama. Jadi lo semua tau dong kegalauan gue seharian ini apa haha. Yah, bedanya gue sih bkan “cinta di antara 2 org” tapi cinta dari gue, karena gue gatau apakah dia cinta sama gue atau engga (dan sepertinya tidak)

ANYWAY *ehem, mulai ngelantur

Gue suka gaya penceritaan film ini. Apa ya? Minimalis lah. Gue suka aktor utamanya, karena bahasa Inggrisnya bagus. Sayangnya bahasa Inggris aktris utamanya tidak begitu bagus. Gue suka mereka sedikit banyak mencampurkan bahasa Inggris dalam percakapan mereka, karena itulah yang memang (sepertinya) banyak terjadi di kalangan mahasiswa

JUGA DI ANTARA GUE DAN DIA, yang membuat gue lebih desperate lagi

Terus, aktornya udah pas se pas2nya, tapi entah kenapa gue (lagi2) kurang sreg sama aktrisnya. Rasanya kurang Indonesia aja. Mungkin seharusnya aktrisnya yang kulitnya lebih gelap, sawo matang.. Pokoknya lebih Indonesia lah, define it yourself :p

Wets, dari tadi gue ngomentarin teknisnya melulu nih ckck

Ceritanya oke banget. Oke sebanget2nya. Karena memang seperti itu lah yang seringkali terjadi di Indonesia. Dan berakhir seperti itu juga. Gue jujur aja ga bisa ngomong apa2. Sepertinya kali ini gue gak bisa ngomong kata “seharusnya” mengenai jalan ceritanya.

Serius, gue jadi pingin nangis

FYI, tau gak, lagunya Siti Nurhaliza yang udah lama tapi terkenal banget itu, gue lupa judulnya apa tapi salah satu liriknya gini bunyinya,

“cintaku bukan di atas kertas, cintaku di jalan yang sama (atau ‘salah’ ya?)”

Itu lagu untuk orang yang pacaran beda agama lhoo. My mom mentioned that to me…  Often. Maybe that song told what she felt

Balik tentang cin(T)a.. Hmm, jujur aja, gue ga begitu paham, tujuan film ini itu untuk apa? Apa pesan yang berusaha disampaikan oleh pembuat cerita? Apakah dia hanya berusaha menggambarkan keadaan, realita yang ada tanpa maksud lainnya? Atau memang ada pesan2 tersembunyi? Gue rasa bagian situ yang agak kurang jelas. Sangat multitafsir.

Tapi filmnya indah😮

dan menyakitkan hiks😥

One response to “cin(T)a: sebuah review

  1. stupid me, i have just found out that it is actually 1 hour long and i only watched the 2nd part of that and i was like “F(word)!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s